Memahami Dua Rukun Puasa

Puasa adalah menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga terbit terbenamnya matahari. Adapun puasa Ramadan adalah puasa yang dilakukan sebulan penuh di bulan Ramadlan. Hukumnya wajib bagi segenap muslim dan inilah rukun Islam yang ketiga. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Rukun puasa ada dua yaitu niat dan menahan diri dari segala perbuatan yang dapat membatalkan puasa. Dalam konteks puasa Ramadan, Niat adalah menyengaja untuk melakukan puasa pada saat malam hari. Sebagaimana sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ لَمْ يَجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ اْلفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Siapa yang tidak membulatkan niat mengerjakan puasa sebelum waktu fajar, maka ia tidak berpuasa.” (Hadits Shahih riwayat Abu Daud: 2098, al-Tirmidz: 662, dan al-Nasa’i:2293).

Niat dalam puasa Ramadan memang sedikit berbeda dengan niat puasa sunnah. Niat puasa sunnah bisa dilakukan setelah terbit fajar. Bisa malam, pagi, atau siang hari selama tidak melakukan sesuatu yang membatalkan puasa. Namun untuk puasa Ramadan wajib dilakukan sebelum fajar. Jika tidak, maka tidak sah puasanya dan wajib mengqadanya di lain hari. Niat untuk puasa Ramadan adalah sebagai berikut:

نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْضِ شـَهْرِ رَمـَضَانِ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـّهِ تـَعَالىَ

“Saya niat mengerjakan ibadah puasa untuk menunaikan keajiban bulan Ramadhan pada tahun ini, karena Allah SWT semata”

Rukun yang kedua adalah menahan diri dari segala perbuatan yang dapat membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 187:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”

Fajar yang dimaksud adalah fajar shadiq (fajar kedua), yaitu garis putih yang membentang di ufuk secara horizontal dari utara ke selatan. Apabila fajar shadiq tersebut telah muncul, maka telah masuk pula waktu shalat shubuh dan itulah awal puasa dimulai.

Sedangkan waktu malam adalah terbenamnya matahari, yaitu menghilangnya matahari di bawah garis cakrawala pada bagian sebelah barat. Di saat warna langit menjadi merah yang disebabkan kombinasi Rayleigh warna biru dan kepadatan atmosfer bumi, di saat itu pula waktu puasa berakhir. (Sumber: Tebuireng Online)